Tepat pada tanggal 2 september 2006, universitas syiah genap berusia 48 tahun, usia yang terbilang muda bagi unsyiah, jika dibandingkan dengan universitas lainnya yang ada di indonesia dan bahkan di tingkat internasional. Tentunya hari ulang tahun ini harus di maknai momentum yang baik dan intropeksi diri terhadap berbagai tantangan serta seluruh cita-cita yang belum tercapai. Tulisan ini hanya mencoba membuka kembali memory yang pernah tertanam dalam sanu bari masing mahsiswa. Walaupun hari ultah unsyiah sudah berlalu lama, tapi tidak berati tidak lupa akan perkembangan yang ada di universitas syiah kuala.
Dalam perjalanannya tentu banyak tantangan yang di hadapi oleh unsyiah mulai dari internal kampus hingga masalah eksternal kampus, tapi tanpa masalah juga tak akan ada proses pendewasaan yang akan berpengaruh terhadap perkembangan dunia kampus, sehingga kita di tuntut untuk dapat mengatasinya sebagai pembelajaran yang sangat berguna untuk perkembangan unsyiah serta mapu menjawab tantangan di masa yang akan datang.
Dalam pidato Dies natalis, rektor unsyiah mengatakan bahwa tradisi akademik harus terus dibina dengan baik, karena sebuah kehidupan kampus tentunya akan mempunyai trackrecord tersendiri, sehingga hal tersebut dapat menjadi acuan untuk memperoleh sebuah pengakuan terhadap institusi itu sendiri. Hal tersebut juga di harapkan dapat menjadi jawaban terhadap tantangan kedepan yang semakin kompleks, belum lagi kehidupan akademik yang semakin ketat, jika kita tidak benar-benar siap menghadapinya maka siap-siaplah menjadi ppenonton di negeri sendiri. Hal inilah yang menjadi renungan kita bersama, kita tidak hanya membanggakan gelar yang akan kita peroleh, tapi hal apa yang dapat kita lakukan untuk universitas ini pada khususnya dan hal apa yang dapat kita lakukan untuk masayarakat luas.
Pembangunan yang dilakukan unsyiah merupakan pembangunan yang bersifat responsif terhadap segala hal, sehingga mampu beradaptasi dengan berbagai hal yang mungkin akan terjadi di masa yang akan datang. Perlu sebuah persiapn yang matang untuk menuju masa depan unsyiah yang lebih baik lagi, ujian dan cobaan akan terus menyertai, tergantung bagai mana kiat menyikapinya.
Masalah dana marupakan masallah serius, yang di hadapi oleh universitas syiah kuala, demikian pengakukan rektor dalam beberapa pidatotanya, beliau mengatakan bahwa unsyiah selalu mengalami kekurangan dana, akibatnya adalah banyak program-program yang tidak dapat berjalan dengan lancar, sehingga dapat mengganggu proses akademik. Sekarang dan kedepan diperlukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk dapat membantu unsyiah dalam hal keuangan dan termasuk dalam bentuk realisai fisik, karena seperti kita ketahui bersama bahwa realisasi fisikitu lebih bermanfaat untuk sebuah institusi pendidikan seperti unsyiah.
Kedepan unsyiah akan memasuki era baru, dimana unsyiah akan berubah status menjadi badan hukum pendidikan. sebahagian mahsiswa mengatakan bahwa hal ini justru akan memberatkan mahasiswa itu sendiri dengan alasan mahalnya biaya pendidikan tapi di sisi lain rektor menjelaskan bahwa hal justru akan membantu mahasiswa. Entalah mana yang benar, yang penting sekarang unsyiah mampu bersaing dengan universitas lain baik ditingkat nasional maupun internasional, dengan menciptakan lulusan yang berkualitas dan mempunyai dayya saing untuk bisa lebih maju. Cukupkah hanya dengan membanggakan prestasi. Sehingga Unsyiah dapat menjadi kiblat pendidikan perguruan tinggi di Aceh secara khusus.
Dalam rentang waktu 48 tahun unsyiah telah meluluskan mahasiswanya sebanyak 47.000 lulusan, angka yang cukup tinggi untuk sebuah institusi pendidikan. Tapi sayangnya lulusan unsyiah sedikiit tersisihkan dengan sarjan dari daerah lain, karena lemahnya SDM yang di miliki. Sehingga banyaknya peluang kerja tidak di isi oleh lulusan unsyiah itu sendiri karena kita kalah bersaing dengan lulusan universitas lain. Hal ini tetntu sebagai peringatan dini untuk kita semua, sehingga mulai dari sekarang kita di tuntut untuk mempersiapkan diri dengan mantap. Untuk saat ini unsyiah memiliki mahasiswa sebanyak 25.758, jumlah mahasiswa tertinggi yang masih kuliah di tingkat daerah aceh.
Jumlah tenaga pengajar di unsyiah mencapai 1527 dosen, dengan komposisi 63 profesor yang masih aktif, 858 orang yang bergelar Strata 2, 504 yang bergelar Strata 1 dan 250 yang bergelar Strata 3, jumlah tenaga penagjar yang sangat banyak untuk sebuah universitas. Banyak isu miring yang dihadapkan untuk unsyiah , mulai dari minimnya prestasi dosen hingga kedisiplinan dosen, hal ini justru berbanding terbalik dengan apa yang di harapan dosen kepada mahasiswanya, banyak dosen yang menuntut prestasi yang luar biasa kepada mahasiswanya, tapi dosen itu sendiri tidak mampu untuk memformulasikan diri sebagia contoh yang patut di contoh oleh mahasiswanya. Begitu banyak dosen yang memiliki berbagai gelar, tapi kita tak pernah tau jika dosen universitas unsyiah sangat jarang mengeluarkan sebuah hasil penelitian, apa lagi untuk menghasilakn sebuah buku yang bermanfaat untuk masyarakat dan mahasiswa. Alasannya yang diberikan oleh dosen tersebut sederhana saja mereka mengatakan, karena tidak ada imbalan biaya yang memadai untuk membuat itu menjadi sebuah kenyataan, apakah dosen kita malas dalam melakukan penelitian karena alasan dana sangat kurang, unsyiah kita sangat kurang dalam menerbittkan buku-buku yang mempunyai nilai yang tinggi untuk di konsumsi oleh mahasiswa. Jika di bandingkan dengan unoversotas lain di indonesia, terutama di daerah pulau jawa, di mana dosen dosen di sana mampu mengeluarkan sebuah buku yang mampu di konsumsi oleh mahaiswanya dan menjadi rujukkan utama dalam hal ilmu, shingga para dosen di sana mampu mengeluarkan majhab sendiri yang di ikuti oleh seluruh universitas di indonesia. hal sangat benrbanding lurus dennga univrsitas lain di luar aceh yang mempunyai berbagai prestasi di tingkatkan nasional.
Kurangnya kepedulian alumni kepada almamaternya dulu, membuat unsyiah berjallan di tempat karena hampir tidak ada alumni yang telah menyelesaikan pendidikanya di perguruan tinggi untuk mau menyumbagkan hal hal yang berupa materiil dan moriil, karena yang ada di benak mereka saat ini adalah hanya kepentingan pribadi. Hal in justru berbanding terbalik dengan universitas kain di indonesia maupun di luar negri, para alumni ini di sana walaupun piluhan tahun telah meninnggalkan bangku kuliah mereka masih mau peduli terhadap perkembangan almamaternya dulu, ini dibuktikan dengan banyaknya sumbagan yang mereka berikan untuk kampusnya mulai dari pembangun yang berupa fisik hingga kepada pemantapan kepada lulusan lulusan selanjutnya sehingga ikatan emosi sangat kuat anatar sesama alumni dan mahasiswanya. Begitu banyak perusahaan yang beroperasi di aceh sehingga tapi hampir tidak ada perushaan ynag mau menghibahkan dananya ke kampus unsyiah, jika kita melihat beberapa universitas dipulau jawa, banyak gedung gedung perkuliahan yang di bangun oleh perusahaan yang beroperasi di wilaya tersebut. Hal ini hampir mtidak ada di aceh.
Di akhir tulisan ini penulis mencoba untuk mengajak kita semua untuk merenungi lahirnya sebuah universitas di Aceh, Perjuangan panjang untuk manghadirkan perguruan ini tidaklah mudah, hal ini mmemerlukan perjuangan yang sangat panjang.kita perlu berterimaksih kepada pendahuku kita yang telah membangub universitas ini, banyak pengorbanan yang telah di korbankan demi tegaknya unsyia di bumi aceh, sekararang adalh tugas kita bersama untuk mengisi dan membangun universitas ini menjjadi lebih baik. Semoga unsyiah kedepan menjadi lebih baik dan mampu mengukir prestasi yang lebih gemilang.
*Penulis adalah anggota ALSA, HMI, REUSAM FAKULTAS HUKUM UNSYIAH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar